BASIS Bank Sampah

Kurangnya kesadaran masyarakat tentang kebersihan lingkungan sangatlah minim yang mengakibatkan banjir dimana-mana,erosi tanah,bahkan yang lebih parah lagi sampah yang menumpuk dikarenakan kurangnya sarana & prasarana pengelolaan sampah yang kurang baik.ditinjau dari segi kesehatan maupun keindahan lingkungan.


Masalah sampah adalah masalah semua orang.Kita seringkali membuang sampah sembarangan yang menyebabkan penyumbatan aliran sungai dan akhirnya dapat menyebabkan banjir. Mengelola sampah sebenarnya tidak terlalu sulit, yang lebih sulit adalah memberikan pemahaman kepada warga & masyarakat luas untuk mengelola sampah dan istigomah menjalankan program ini.

Sampah warga sama seperti sampah-sampah kota pada umumnya. Sampah ini bercampur antara sampah organik dengan sampah non organik. Warga belum memiliki kesadaran untuk memisahkan antara sampah organik dengan sampah non organik. Sampah-sampah ini dikumpulkan setiap dua hari sekali oleh petugas sampah.

sampah warga didominasi oleh sampah-sampah non organik. Sampah non organik yang paling banyak adalah sampah plastik. Seperti yang sudah diketahui sampah dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar : sampah non organik dan sampah organik. Dari setiap kelompok ini berdasarkan bisa tidaknya didaur ulang dapat dikelompokkan menjadi bisa didaur ulang dan tidak bisa didaur ulang.



Lihat gambar di bawah ini :







        Sampah organic                                  Sampah non organik



Pembagian kelompok sampah warga



Contoh kelompok sampah tersebut adalah sebagai berikut:

A. Sampah Organik Bisa Didaur Ulang: kertas, kardus, koran, majalah, dll

B. Sampah Organik Tak Bisa Didaur Ulang: sisa makanan, daun, sisa sayuran, dll.

C. Sampah Non-organik Bisa Didaur Ulang: logam (besi, alumunium, tembaga), botol, bekas botol minuman, kaleng, plastik, kaca, dll.

D. Sampah Non-organik Tak Bisa Didaur Ulang: plastik yang tidak bisa diaur ulang, baterai bekas, dll.

Sampah-sampah yang bisa didaur ulang baik organik maupun non-organik bisa dijual. Saat ini sudah ada pengepul barang-barang bekas yang datang ke lokasi pengelolaan sampah.Dalam satu minggu minimal mereka bisa mendapatkan dana tambahan dari barang bekas daur ulang ini.Jumlah ini justru lebih tinggi nilainya daripada pengolahan sampah organik menjadi kompos.

Sedangkan sampah non-organik yang tidak bisa didaur ulang seharusnya dibakar. Namun, saat ini mereka belum memiliki incinerator untuk membakar sampah. Jika sampah ini dibakar langsung akan diprotes warga, karena asapnya ke mana-mana dan masuk ke rumah-rumah warga. Dengan incinerator, cerobong bisa dibuat tinggi sehingga asap bisa langsung ke udara. Selain itu pembakaran bisa berlangsung sempurna dan mengurangi pencemaran udara.

Sampah organik diolah menjadi kompos. Kompos dapat diolah lagi menjadi pupuk organik untuk dijual. Atau digunakan sendiri untuk menanam tanaman hias, tanaman apotik hidup, atau tanaman sayuran/buah-buahan.





Proses Pengelolaan Sampah



A. Pengumpulan Sampah Warga

Sampah warga dikumpulkan dari rumah ke rumah yang seluruhnya terdiri dari beberapa RW & RT. Sampah ini dikumpulkan oleh petugas yang khusus setiap seminggu sekali dengan menggunakan gerobak atau truk sampah. Sampah-sampah ini dikumpulkan di tempat penampungan sementara. Petugas yang terdiri dari dua orang atau lebih bekerja dari pagi sampah menjelang sholat dhuhur.



B. Sortasi Sampah

Di tempat penampungan sampah, sampah-sampah ini disortasi. Ada dua petugas lagi yang bekerja untuk melakukan sortasi sampah ini. Sampah-sampah yang bisa didaur ulang dikumpulkan dan dibersihkan dari sampah yang lain. Sampah-sampah non-organik yang tidak bisa didaur ulang juga dipisahkan tersendiri. Sedangkan sampah organik yang tidak bisa didaur ulang dipisahkan untuk diolah menjadi kompos. Ada beberapa sampah organik yang tidak ikut dikomposkan, yaitu: kayu, bambu, tulang, dan tanduk. Sampah-sampah ini bisa dikomposkan tetapi membutuhkan waktu yang lebih lama, sehingga tidak sesuai jika dicampurkan dengan sampah organik yang lain. Selain itu jumlah sampah ini tidak terlalu banyak.

Sortasi sampah merupakan bagian yang cukup rumit. Banyak makan waktu dan tenaga. Saya memberi saran pada para pengelola untuk mulai mengajak warga memisahkan sampah organik dan nin organik sejak dari rumah-rumah. Hal ini perlu penyadaran yang terus menerus, mungkin perlu waktu lama tetapi harus dimulai sejak dari sekarang. Mungkin sebagai perangsang bisa dengan memberikan reward bagi warga yang mau memisahkan sampahnya. Rewardnya tidak perlu mahal-mahal, misalnya warga yang mau memisahkan sampahnya diberi hadiah atau semacamnya



C. Pengomposan

Sampah-sampah organik yang tidak bisa didaur ulang diolah menjadi kompos dengan menggunakan aktivator PROMI. Sebelumnya mereka pernah mencoba menggunakan aktivator-aktivator lain yang banyak dijual di toko pertanian. Namun, karena prosesnya agak ‘ribet’ dan membutuhkan banyak bahan tambahan, seperti: gula, kapur, pupuk kandang, dll mereka lebih memilih PROMI. PROMI tidak membutuhkan bahan tambahan, tidak memerlukan pencacahan, dan tanpa pembalikan. Hanya saja PROMI belum tersedia di pasaran luas, sehingga mereka harus membelinya di laboratorium saya. Untungnya tempatnya dekat jadi tidak terlalu menjadi masalah bagi mereka.



Bank Sampah, Mengubah Pandangan tentang Sampah



Menyimpan sampah, terdengar paradoks. Sebab sampah adalah sesuatu yang biasanya kita buang. Tapi inilah yang akan dilakukan oleh warga Tangerang khususnya kawasan ciledug. Mereka mengumpulkan, menyimpan lalu akan menabung sampahnya dibank sampah.





Adakah bank yang mau menerima sampah? Ada.



Dimana ada bank yang mau diberi sampah?,mungkin konyol kedengarannya tapi tahukah bahwa sampah juga bisa bermanfaat bagi kita asalkan kita mau mengelolanya dengan baik & benar,misalkan saja didaur ulang ataupun ditabung kepada bank yang mau menerima sampah.disini,kami dari BASIS (BANK SAMPAH INSAN SEJAHTERA) berupaya untuk berpartisipasi dalam mengelola sampah serta pemberdayaan lingkungan hijau.

Caranya,dengan membuat bank sampah seperti yang telah dilakukan oleh Desa Badegan, Bantul,Yogyakarta.kegiantanya sendiri dilaksanaka Setiap Senin s/d Jumat dimulai dari pukul 09.00 hingga 14.30,warga akan mendatangi bank sampah untuk menabung sampah rumah tangga mereka yang berupa besi, plastik, kertas, dan lain sebagainya.

Petugas bank lantas memilah & memilih,serta menimbang dan mencatat hasilnya ke rekening mereka yang disetorkan pada petugas. Namun, pada awalnya yang tercatat hanyalah jumlah berat setoran, belum jumlah rupiah. Setelah sampah-sampah ini dibeli pengepul, baru muncul besaran rupiah yang kemudian ditambahkan dalam catatan rekening nasabah. Namun, uang yang diterima para nasabah ini tak utuh, karena akan dipotong 30% untuk kas bank & 10% untuk kegiatan bakti sosial. Bagi kami juga khususnya warga setempat, keberadaan bank sampah akan sangat menguntungkan.sampah yang selama ini dibuang begitu saja,bisa menghasilkan uang yang tak sedikit . “Ya lumayan untuk tambah-tambah kebutuhan sehari-hari”.& yang lebih menarik lagi warga juga bisa sambil beramal dari sampah. Apalagi uang yang didapat ini kan dari barang yang sudah tak kami pakai lagi.

Gagasan bank sampah berawal dari kami yang tak tahan melihat lingkungan yang kotor,seringnya banjir yang terjadi,bahkan kurangnya pengelolaan yang benar.

Divisi bank bertugas menampung sampah-sampah dan menyetorkan sampah yang sudah dipilah ke divisi masing-masing atau menjual sebagian ke pengepul. Bank Sampah menjadi pusat pengumpulan dan pengolahan sampah. Sampah basah diolah jadi kompos, sampah kering didaur ulang jadi barang-barang yang bisa dipakai dan dijual.







BANK SAMPAH INSAN SEJAHTERA (BASIS)



Kami dari BASIS (BANK SAMPAH INSAN SEJAHTERA) menerima pengelolaan sampah menjadi system bank.dengan proses sebagai berikut :





Pendaftaran :

Pendaftaran dilakukan oleh calon nasabah.Buku tabungan diperuntukan untuk nasabah bank sampah,Petugas akan memberikan formulr pendaftaran untuk diisi oleh calon nasabah,Setelah mengisi formulir petugas akan menerangkan tata cara nasabah menyetor & mengambil tabungan sampah,Setiap nasabah akan mendapatkan buku tabungan,Setiap sampah yang ditabung nasabah akan dikenakan biaya administrasi sebesar 30% untuk kegiatan pengelolaan (operasional) & 10% untuk kegiatan bakti sosial(amal) sedangkan nasabah akan mendapatkan 60%.

Penyetoran :

Setiap sampah yang disetor harus sesuai dengan jenisnya,Setiap kali melakukan penyetoran nasabah wajib membawa buku tabungan,Setiap kantong sampah yang diterima oleh petugas akan ditulis nama & no rekening nasabah,Sampah yang disetor akan ditimbang sesuai dengan berat & harganya,Petugas akan mengisi buku tabungan sesuai dengan berat dari sampah tersebut,Penyetoran dapat dilakukun pada jam operasional bank sampah. Setiap kantong sampah milik nasabah atau penabung diberi label agar tidak tertukar dengan nasabah lain. Kemudian kantong sampah itu disimpan dalam bilik penyimpanan sampah sesuai jenisnya. Teller mencatat dan mencocokkan lagi semua penyetoran nasabah dalam buku besar yang disebut buku induk.

Kompensasi :

System penarikan dilakukan 3 atau 6 bulan sekali & juga hari raya / apabila sudah mencapai batas minimal pengambilan.Setiap penarikan nasabah wajib membawa buku tabungan



Penampungan :

Petugas akan memilah kembali sampah yang telah disetorkan oleh warga untuk dijadikan satu.Petugas akan menyimpan beberapa sampah untuk didaur ulang

Pengangkutan :

System pengumpulan komunal : petugas berkeliling mengambil sampah milik warga dititik yang ditentukan.Sampah disetor ke pengepul setelah petugas selesai bertugas

Penyetoran ke pengepul :

Penyetoran dilakukan setelah sampah terkumpul selama seminggu,Penyetoran dikirim menggunakan mobil pengangkut,Hasil sampah yang dikumpulkan akan dihitung kembali oleh pengepul untuk mencocokkan harga,Setelah mendapatkan harga yang cocok petugas akan menerima setoran uang dari pihak pengepul & minyimpannya di dalam kas.